News|

Mulia, (PUNCAKJAYAKAB.GO.ID) – Pegunungan tengah di Kabupaten Puncak Jaya Provinsi Papua mempunyai banyak panganan yang berasal dari berbagai macam daerah, itu dikarenakan banyaknya pendatang dari berbagai macam daerah dan suku.

Foto Diskominfo PJ Johdan A.A.P.

Banyaknya suku pendatang yang sudah merantau ke Kabupaten Puncak Jaya ini membuat mereka berkreasi dan berniaga dengan semua kemampuan mereka agar tetap bertahan hidup dengan harapan bisa sukses di tanah Papua.

Tidak sedikit kisah para perantau yang sudah sukses, sebagai contoh yang sudah ditemui di warung makan usaha milik pasutri asal Sumatra Barat, Dicky SiKumbang dan istrinya Indah Sari.

Pengusaha warung makan padang ini selama hidupnya merantau di Papua sudah mengalami jatuh bangun untuk bertahan hidup.

Foto Diskominfo PJ Johdan A.A.P.

Pria yang akrab disapa Uda ini mengisahkan awal dia merantau ke tanah Papua ini pada tahun 2005 lalu, berprofesi sebagai supir taksi (angkutan perkotaan) di Jayapura.

“Saya dulu itu supir taksi di Jayapura, mobil taksi ini maksudnya mobil angkot kalau di Jakarta, selama 1 tahun saya geluti profesi tersebut untuk bertahan hidup di negeri orang”, cerita Uda mengawali perbincangan.

“Berbagai macam profesi saya jalani, setelah jadi supir taksi, saya pernah jadi penjaga warung makan, penjaga konter Hp, sampai pada akhirnya pada tahun 2016 saya pindah domisili ke Kabupaten Puncak Jaya bersama istri untuk memulai usaha warung makan ini”, kata pria asli Padang ini.

Dengan modal percaya diri dan amanah dalam memberikan kepercayaan terhadap warga lokal, pria ini memulai usaha warung makan Padangnya di kota Mulia tanpa modal sedikitpun.

Foto Diskominfo PJ Johdan A.A.P.

Ia bercerita, membuka usaha masakan padang disini tidak memakai modal, hanya diberikan jalan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

“Saya buka usaha disini ga pakai modal sama sekali, Saya percaya Tuhan pasti memberikan jalan dan dengan akal saya untuk bertahan hidup, saya kenal dengan orang , orang itu percaya dengan saya, ya saya beranikan untuk berhutang, Alhamdulillah saya bayar dengan cara dicicil selama 6 bulan sudah lunas,” cerita Uda.

“Dari awal merantau kesini tuh sangat menderita, namanya orang merintis menderita itu pasti ya, awalnya itu saya dulu kan kerja dengan kakak ipar selama 6 bulan, kemudian saya coba untuk mandiri dan dapat tanah disini untuk disewa walau hutang”, cerita pria yang sudah punya dua anak.

Foto Diskominfo PJ Johdan A.A.P.

“Ditanah warga tersebut saya bangun rumah makan ini dengan modal kepercayaan juga ke warga lokal maupun tukang, itupun masih hutang. mulai dari kayu, papan triplek, seng, meja, kursi, piring, ongkos jasa tukang dan bahan pokok makanan untuk jualan semuanya hutang, karena saya benar-benar tidak pegang uang sedikitpun, bila dijumlahkan itu sekitar dua ratus juta lebih”, ungkap pria yang juga seorang Youtuber yang sudah mempunyai 20K subscriber dengan nama UDA MJM.

“Namanya kita pendatang, saya pribadi harus amanah dengan janji yang sudah disepakati dari awal, walau itu hanya keluar dari mulut saja tanpa ada hitam diatas putih, suatu kewajiban bagi saya untuk membayar semua itu dengan cara dicicil tiap bulan”, kata pria yang kini sudah mempunyai banyak usaha di kota Mulia ini.

Sangat mengispirasi kisah hidup pria ini, hidup diperantauan dengan pengetahuan dan pendidikan yang minim, Dicky sudah mampu mempekerjakan beberapa orang, dirumah makan padangnya sendiri ada 4 orang pegawai, dan dia coba peruntungan di dunia kreatif untuk membuka studio foto dan fotocopy dengan dua orang pegawai yang mengoperasikannya serta satu toko yang berjualan bahan kebutuhan pokok dan dijaga oleh satu orang pegawai.

Foto Diskominfo PJ Johdan A.A.P.

Resep masakan padang hasil Dicky Sikumbang dan istri yang sudah disesuaikan dengan lidah masyarakat disini menjadi idola masyarakat pendatang maupun lokal dikota Mulia, terbukti dengan omset penghasilan setiap harinya mampu mencapai maksimal sebelas juta rupiah, dengan angka tersebut pria ini mampu membiayai keluarganya dan mengasuh seorang anak angkat yang saat ini sudah menempuh pendidikan di sebuah institusi TNI di Bandung. (KominfoPJ/Indah/Hari/Johdan A.A.P.)

Close Search Window